Antara Pelajar dan Internet

Saat ini, perkembangan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi sudah sangat maju. Mulai dari perangkat laptop, notebook dan netbook sampai dengan telepon genggam (handphone, smartphone, PDA) semua diciptakan dan didesain untuk dapat mengakses internet. Bahkan saat ini  handphone sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk dapat mengakses situs-situs jejaring sosial seperti facebook, twiter, friendster , Yahoo  Messanger, dan masih banyak lagi. Baik orang dewasa maupun pelajar sangat tertarik dengan fitur ini. Bagaimana tidak, kita dapat sangat terhibur dengan bertemu teman lama, bahkan dengan mudah pula dapat mendapatkan teman baru dari berbagai kalangan dan berbagai belahan dunia  yang juga telah mendaftar di situs jejaring sosial ini. Para pelajar SMA, SMP, SD dan bahkan ada beberapa yang masih belum lulus Taman Kanak-kanak pun sudah dengan mudah dapat mengerti bagaimana cara menggunakan fitur ini baik melalui komputer maupun dengan telephone genggam mereka. Sebagian dari mereka sampai lupa waktu jika mereka sudah mengakses jejaring sosial ini. Bagaimana supaya ini tidak mengganggu/mengurangi waktu belajar mereka?

Pada awalnya, internet memang hanya digunakan untuk berbagi informasi antara penyedia data/informasi dengan penggunanya. Tetapi, karena teknologi ini diciptakan seiring dengan perkembangan kebutuhan manusia, maka saat ini pun internet sudah menyediakan berbagai informasi yang mencakup hampir semua bidang yang ada. Bagi para pelajar, sebenarnya internet dapat digunakan untuk menambah ilmu maupun informasi yang tidak mereka dapatkan di bangku sekolah mereka. Akan tetapi, jeleknya, tidak semua informasi yang tersedia di internet saat ini seratus persen benar, tergantung dari siapa pembuatnya dan apa tujuannya. Karena saat ini banyak orang menulis di website dengan tujuan iseng-iseng saja. Banyak orang mengisikan di website mereka dengan konten-konten informasi yang berbau kekerasan maupun pornografi. Jika hal-hal semacam ini sampai diakses para pelajar, bisa jadi Ini akan dapat menghambat/mengganggu  kesehatan berpikir dan perkembangan psikologi mereka.

Pertanyaannya, bagaimanakah supaya internet ini aman diakses para pelajar? Termasuk bagaimana pula  caranya agar mereka tidak menyia-nyiakan terlalu banyak waktu untuk  online dan mengakses informasi-informasi yang sifatnya kurang penting atau bahkan yang dapat menghambat perkembangan mereka?

Di sinilah peran dari orang tua  dan guru. Ketika pelajar ini berada di rumah, maka orangtua lah yang harus membimbing mereka. Tetapi dikala siswa berada di sekolah, maka guru mengambil alih untuk membimbing mereka. Anehnya, dari  penelitian yang penulis lakukan sendiri tentang  bagaimana pengetahuan mereka terhadap internet, menghasilkan kesimpulan bahwa dari 10 orang tua yang penulis temui dan wawancarai, 3 diantaranya mengaku sering menggunakan internet, 5 diantaranya jarang mengakses internet dan 2 diantaranya tidak pernah mengakses internet. Sedangkan ketika penulis bertanya pada 10 guru, satu orang diantaranya kurang mengerti internet, 9 diantaranya mengerti internet dan 7 diantaranya sering mengakses internet baik untuk mencari informasi maupun untuk fungsi lainnya serta semua juga mengaku sering menggunakan komputer maupun handphone. Ini memang tidak dapat mewakili dari semua orang tua dan guru yang berada di negara kita, tetapi setidaknya kita harus lebih waspada kepada anak-anak pelajar kita. Bagaimana kita mau mengontrol mereka kalau kita sendiri tidak pernah mengakses atau bahkan tidak tahu apa itu internet.

Memang kita sebagai orang tua dan guru dituntut harus serba lebih tahu dari putra-putri kita. Tetapi kalaupun itu sulit bagi kita, setidaknya kita selalu mencari tahu apa yang mereka lakukan ketika mereka berhadapan dengan internet. Hal ini sangat diperlukan agar baik putra-putri kita maupun para pelajar kita dapat secara maksimal memanfaatkan fungsi positif internet khususnya untuk memenuhi kebutuhan informasi sebagai tambahan belajar mereka. Bagaimana menurut anda?

Baca Juga