MEMPERJUANGKAN MODEL PEMBELAJARAN YANG KREATIF DAN KRITIS

(Penulis : Darius Jo Soo)

“Ada kisah bahwa ilmuwan besar Einstein pernah ditanya ada berapa kaki (sekitar 30 cm) dalam satu mil. Einstein menjawab :”saya tidak tahu, mengapa saya harus mengisi otak saya dengan fakta yang dapat saya temukan dalam waktu dua menit di dalam buku acuan yang standar?” Demikianlah kutipan jawaban dari seorang Einstein dalam buku best seller :”Berpikir dan Berjiwa Besar, karangan David J. Schwartz. Pola pikir Einstein memang sangat kritis dan kreatif. Kritis karena Einstein tidak langsung menjawab tentang apa yang telah diketahuinya. Pertanyaan itu tidak mendidik orang untuk terus berpikir, dan kreatif karena ia melakukan sebuah terobosan baru, mendobrak model pembelajaran tradisional dan mengajak orang untuk keluar dari sebuah kemapanan yang ada.

Einstein mengajarkan kita suatu pelajaran yang sangat besar. Ia merasa bahwa lebih penting menggunakan otak kita untuk berpikir dari pada menggunakannya sebagai gudang fakta. Makanya Einstein sebenarnya tidak pernah tertarik untuk memenuhi pikirannya dengan informasi. Ia tahu bahwa kemampuan untuk mengetahui cara mendapatkan informasi itu jauh lebih penting dari pada menggunakan pikiran sebagai garasi untuk fakta saja.

Tulisan ini lebih bersifat refleksi kritis empiris sekaligus futuristik karena berangkat dari sebuah perjuangan untuk menggapai impian mulia yakni menerapkan model pembelajaran yang kritis, kreatif dan humanis. Pengalaman membuktikan bahwa model pendekatan pembelajaran formal saat ini masih pakem dan kaku. Sistem pendidikan yang ada masih menuai protes dan ketidakpuasan dari banyak pihak terutama kebijakan pemerintah tentang ujian nasional. Mutu pendidikan secara nasional masih cukup memprihatinkan, system pembelajaran di sekolah masih belum memadai, situasi ini diperparah lagi dengan krisis moral yang melanda pada masyarakat Tampaknya yang mempengaruhi kita semua termasuk pihak pemerintah adalah gagasan kita sendiri tentang manusia. Gagasan kita tentang manusia akan menentukan pembelajaran macam apa yang akan kita terapkan terhadap generasi muda.

Berbicara tentang model pembelajaran yang kritis, kreatif dan humanis tidak dapat dilepaspisahkan dari gagasan kita tentang manusia. Kalau demikian siapakah manusia itu? Secara sederhana manusia adalah makhluk yang berakal budi (animal rationale). Keunggulan manusia dari binatang adalah akal budinya. Dengan akalnya ia dapat berpikir, bernalar, menentukan pilihan dan mengambil tindakan berdasarkan pilihannya. Manusia juga adalah makhluk yang bermartabat, pribadi yang berharga karena diciptakan Tuhan, karena itu ia dekat dengan Tuhan bahkan mirip dengan Tuhan. (Kej 1:26-27; Mz 8:5-6; Yer 1:5) Kemiripan makhluk manusia dengan Tuhan adalah terletak pada kompetensi dasar dan kualitas pribadi yang melekat dalam diri manusia sebagai makhluk yang berpikir, berhati nurani dan berkehendak bebas. Sejak awal manusia telah dibekali oleh Tuhan dengan kemampuan dasar untuk menjadi co-creator, menjadi kolega kerja Allah dalam usaha mengembangkan dunia ini. Manusia dipercayakan untuk memelihara dan memanage dunia dan segala isinya secara bertanggungjawab. Jadi ungkapan anak didik itu seperti tabula rasa atau kertas putih kosong itu sudah seharusnya disingkirkan. Paradigma lama yang melihat anak didik sebagai manusia tak punya apa-apa itu justru bertentangan dengan konsep belajar yang sedang diperjuangkan. Siswa tidak kosong, tetapi sudah punya pengetahuan awal tertentu yang harus dibantu untuk berkembang. Peran guru sebagai motivator, fasilitator dan moderator menjadi sangat di butuhkan dalam proses pembelajaran ini. Tentang metode yang digunakan dalam proses pembelajaran ini. Memang tidak ada satu pun metode pembelajaran yang paling baik dan sempurna bila dibandingkan dengan yang lainnya. Meski demikian masih dapat ditelusuri ada satu dua metode yang cukup efektif dan membantu siswa kearah proses pembelajaran yang lebih berhasil yaitu metode penemuan. Dalam metode ini siswa dilatih untuk terbiasa melakukan pengamatan, membuat hipotesis, memunculkan prediksi, menguji hipotesi, memanipulasi obyek untuk melihat perubahannya, memecahkan persoalan, mencari jawaban sendiri, menggambarkan kejadian, meneliti, berdialog, melakukan refleksi, mengungkapkan pertanyaan dan mengekspresikan gagasan selama proses pembentukan konstruksi pengetahuan yang baru. Dengan demikian metode ceramah bukan metode pilihan tunggal dalam proses KBM di sekolah. Guru harus memahami bahwa pengetahuan yang akan diperoleh siswa itu merupakan hasil konstruksi siswa sendiri saat ia belajar. Misalnya pengetahuan tentang anjing adalah konstruksi siswa sendiri yang terjadi karena ia mengolah, mencerna dan akhirnya merumuskan dalam otaknya lewat pengalaman inderawi : melihat, menjamah, membau, mendengar dan akhirnya merumuskannya dalam pikiran. Jadi sebuah proses menjadi sedang terjadi dalam KBM ini. Pelajaran dan arahan guru itu menjadi bahan yang harus diolah dan dirumuskan oleh siswa sendiri; karena itu materi dan arahan guru harus bisa merangsang dan membantu siswa untuk belajar. Komponen lain yang tidak kalah penting dalam proses pembelajaran adalah sarana penunjang belajar yang memadai. Tanpa sarana orang hanya bisa berjalan di tempat saja, karena itu pengadaan sarana pendidikan menjadi syarat mutlak seperti : laboratorium, perpustakaan, ruang baca, ruang doa yang nyaman, ruang musik dan ruang alat peraga. Pengadaan sarana harus disertai dengan pengelolaan yang baik dan pendayagunaan yang optimal. Misalnya guru perlu membiasakan diri untuk bekerja di laboratorium, luangkan waktu ke perpustakaan dan duduk membaca di ruang baca. Dalam proses pengolahan dan pencernaan para siswa membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Guru tampil sebagai fasilitator, motor dan moderator bukan orator atau dictator. Guru memantau dan mengevaluasi apakah gagasan siswa itu sesuai dengan gagasan para ahli tidak? Siswa aktif belajar dan mencerna, biarkan mereka bertanya, mengemukakan pendapat meski jauh dari apa yang diharapkan. Berikan kesempatan kepada mereka untuk mencurahkan gagasan dan mengekspresikan dirinya. Sesungguhnya bila guru mau sedikit berpikir dan berbesar hati mendengarkan semua argumentasi dan cara berpikir muridnya, maka guru ini bisa memberikan pengaruh yang sangat besar pada hidup muridnya di kemudian hari. Yang penting bukanlah apakah jawaban itu benar atau salah. Yang jauh lebih penting adalah apa sebenarnya yang menjadi landasan berpikir sehingga di dapat jawaban. Menghadapi situasi dan kondisi riil seperti ini para pendidik seluruh negeri ini semestinya bangkit maju bersama membongkar tembok pembatas yang menyebabkan keterpurukan dalam dunia pendidikan. Insan pendidikan tengah digerogoti oleh pola pikir yang menghambat dan merusak daya kreatifitas manusia muda. Masalah yang masih mengganggu konsentrasi belajar dan proses pembelajaran sekarang adalah masalah seputar kebijakan pemerintah untuk tetap menggelarkan Ujian Nasional sebagai penentuan kelulusan. Meski Mendiknas M.Nuh mengatakan, pada tahun 2010 Departemen Pendidikan Nasional akan melakukan perubahan pelaksanaan Ujian Nasional, tetapi pada saat yang sama ia menyangkal jika perubahan tersebut dikaitkan dengan keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi dari pemerintah berkait keputusan dari Pengadilan Tinggi Jakarta tentang pelaksanaan UN. Alat ukur dan teknik penilaian yang ada sekarang sesungguhnya kurang membantu anak untuk berpikir cerdas dan mengembangkan daya kreatifitasnya. Bentuk soal pilihan ganda misalnya sama sekali merugikan anak. Tidak ada peluang bagi anak untuk memberikan jawaban lain selain jawaban yang ada. Membuat kesalahan berarti hal yang jelek. Salah sedikit nilainya pasti baik, akhirnya anak berkesimpulan membuat kesalahan itu berarti sangat tidak baik. Belum lagi fenomena uniformitas dalam system penilaian, rancangan pembelajaran sampai kepada aturan berpakaian, semua diatur dari atas. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa : • Peserta didik adalah manusia yang telah dikodratkan Allah dengan kemampuan berpikir, berhati nurani dan berkehendak bebas. • Model pembelajaran yang kritis, kreatif dan humanis harus ditunjang dengan metode pendekatan pembelajaran yang menghargai peserta didik sebagai makhluk yang mampu mencari, mengolah, mencerna dan menemukan sendiri. • Guru berperan sebagai cura personal, fasilitator, motor dan moderator. • Tantangan yang harus kita hadapi sekarang adalah : pendidikan yang tanggap terhadap situasi persaingan dan kerja sama global, pendidikan yang membentuk pribadi yang mampu belajar seumur hidup dan pendidikan yang menyadari sekaligus mengupayakan pentingnya pendidikan nilai. Sumber Referensi : 1. Adi W. Gunawan, 2005, Born to be a Genius, Gramedia, Jakarta 2. David J. Schwartz, 2007, Berpikir dan Berjiwa Besar, Binarupa Aksara, Batam 3. Suparno, Paul, SJ, 2006, Reformasi Pendidikan, Sebuah Rekomendasi, Kanisius Yogyakarta

Tentang Penulis:

Penulis adalah Guru Agama Katolik SD Tarsisius Vireta

  • Artikel:


Avatar Romanus Mudjiono

Pembelajaran Aktif dan Kreatif

Gagasan pembaharuan pendekatan pembelajaran yang humanis, sudah banyak dikemukakan oleh berbagai kalangan, dan muncul pula dalam diskusi2 tentang kependidikan, yang belum banyak adalah orang yang berani konsisten menerapkan tanpa melihat kondisi-kondisi ada sebagai hambatan yang besar. Semakin banyak guru berani menerapkan pendekatan pembelajaran yang humanis atas kesadaran dan sikap hati yang tulus untuk memartabatkan semua peserta didik, akan berdampak sangat positif pada dunia pendidikan. Karena setelah keberanian mereka menghasilkan peserta didik yang bermudu dengan karakter kuat, ditandai kemampuan peseerta didik yang semakin mampu belajar mandiri, berpikir terbuka,dan adaptif, orang akan ikut melakukan pendekatan yang sama karena melihat hasilnya. Intinya kita harus berani melakukan, karena keberanian untuk hal yang baik pasti hasilnya positif. Terimakasih P Darius artikelnya, Mari kita masing-masing pribadi berani melakukan, begitu ada hasilnya orang akan ikut.



Avatar Darius JS

tanggapan

Terima kasih Pak atas apresiasinya, memang gagasan ini sudah banyak dibicarakan di pelbagai pertemuan,tapi masih sebatas tahap sosialisasi sebuah nilai,orang belum sampai kepada tahap enkulturatif / kesadaran subyektif dan internalisasi. Keberanian untuk melakukan sesuatu yang positif terkadang masih terganjal oleh sebuah sistem dan mental blok manusia itu sendiri.