Membuat Paskah Lebih Bermakna
(Penulis : Darius Jo Soo)
“………Itulah hal terbesar yang telah dilakukannya….
Semua cacian dan penghinaan….
Di terimaNya, demi kita semua…
KasihNya menyelamatkan jiwa kita.”
Demikianlah penggalan akhir puisi Paskah dari Andahlia D murid kelas VI B SD Tarsisius Vireta yang mengekspresikan pengalaman dan pengakuan imannya akan Yesus Kristus yang telah melakukan hal terbesar dalam hidupNya dengan segala konsekuensi logisnya. Semuanya dilakukan demi cintaNya yang besar kepada umat manusia. Kehendak BapaNyalah yang menjadi opsi utama dalam perjalanan karierNya. Bait terakhir lebih merupakan kesimpulan sederhana tapi menarik dan mendalam : ternyata Tuhan sendiri dalam proses mencapai misiNya yang mulia itu, justru diawalinya dengan jalan penderitaan dan kematian. Karena dalam dan melalui jalan penderitaan dan kematian Tuhan telah banyak memberikan pengertian, janji dan harapan serta peneguhan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan, ketakutan dan krisis kemanusiaan.
Puisi ini ditulis bertepatan dengan kegiatan perayaan Paskah bersama keluarga besar SD Tarsisius Vireta pada hari Jumat, 9 April 2010 yang lalu. Selain lomba menulis puisi paskah, panitia memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menghias telur paskah, mencari telur paskah dan mewarnai gambar-gambar yang bertemakan paskah. Menulis puisi, mewarnai gambar-gambar seputar peristiwa paskah, menghias dan mencari telur paskah menjadi sebuah katekese yang menarik bagi anak-anak. Anak-anak diberi kesempatan untuk mengekspresikan dirinya, menunjukkan keunikan dan mendapakan kebebasan. Selain itu anak-anak dilatih untuk peduli, sikap saling memberikan dukungan dan proaktif, bermain dan berinteraksi secara aktif dalam suasana rileks. Acara Paskah dibuka dengan perayaan Ekaristi bersama yang di pimpin oleh Rm. Charles Javlean Pr. Dalam kotbahnya imam muda itu meyakinkan anak-anak bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit dan kini Ia hidup bersama kita. Kita tidak perlu takut Tuhan selalu hadir bersama kita. Jangan takut, belajar terus, Tuhan tak akan meninggalkan kamu. Aku akan menyertai kamu kini dan seterusnya.

(Gambar : Lomba mencari telur paskah)
Seluruh acara di kemas panitia sedemikian rupa sehingga dapat berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Anak-anak merasa senang dan ceria mengikuti seluruh acara. Suasana penuh sukacita. Bapa ibu guru juga puas melihat murid-muridnya antusias tanpa lelah mencari telur paskah lambang sebuah kehidupan. Yang paling penting sesungguhnya bukan aksi mencari telurnya tetapi makna yang terbersit di balik aksi tersebut. Bahwa anak-anak harus dibiasakan untuk terus mencari sesuatu yang memberikan kehidupan bagi hidup dan kehidupannya. Sukacita, kebersamaan dalam iklim toleran, saling menanggung beban dalam aksi nyata prapaskah, kekeluargaan dan persaudaraan kiranya menjadi warta paskah tahun ini.
Menutup tulisan ini, puisi Andahlia (kelas VI B SD Tarsisius Vireta) dapat dijadikan bahan untuk direnungkan sejenak .
Penderitaan dan Kebangkitan Yesus
DarahNya tertumpah,
Di sepanjang jalan Yerusalem
Seorang yang tidak bernoda dosa
Siksaan, penghinaan, dan penderitaan
Itulah yang dirasakan Yesus,
Untuk menebus dosa manusia
Beban salib yang berat,
Mahkota duri yang mengerikan, tertusuk di kepalaNya
Semuanya di tanggung seorang diri.
Paku yang besar ,
Menembus tangan dan kakiNya
Semua ditanggungnya, demi orang-orang yang
Penuh dengan aib dan dosa.
“Bapa, ampunilah mereka sebab mereka
Tidak tahu apa yang telah mereka lakukan.”
Itulah seuntai kata yang terucap dari bibirnya
Tiga hari telah berlalu,
Ia pun bangkit dari antara orang-orang mati
Semua orang bersorak sukacita, atas kebangkitanNya
Itulah hal terbesar yang telah dilakukannya,
Semua cacian, dan penghinaan.
Di terimaNya, demi kita umatNya.
kasihNya menyelamatkan jiwa kita.
- Artikel:
- Kirim komentar
- 174 kali dibaca



